Orang muda disebut sebagai pemimpin muda ketika keberhasilannya otentik, genuin, tulen, asli. Hasil perjuangannya sendiri mulai dari nol hingga berhasil. Bukan karena ayahnya presiden atau pejabat tinggi.
Ada juga yang melihat bahwa dengan jadi Cawapres-nya Gibran dan Kaesang, adiknya, menjadi Ketua Partai, memberikan harapan kepada orang muda untuk menjadi pemimpin. Hal itu keliru. Justru yang terjadi sebaliknya. Saat Jokowi jadi Wali Kota, lalu jadi Gubernur DKI Jakarta, dan kemudian jadi Presiden, hal itu memberikan harapan kepada orang-orang muda berprestasi yang berasal dari rakyat biasa untuk jadi pemimpin di negeri ini. Karena Presiden Jokowi berasal dari rakyat biasa.
Harapan yang dikobarkan Presiden Jokowi itu justru mati seketika saat Gibran sontak mendadak jadi Cawapres dan Kaesang yang baru dua hari jadi anggota partai sontak mendadak jadi Ketua Partai. Hal ini hanya mungkin terjadi karena keduanya anak Presiden Jokowi. Punya semacam hak istimewa (privilege). Kalau bukan anak Presiden, hal itu tidak mungkin terjadi. Itu artinya tidak ada harapan bagi orang-orang muda untuk menjadi seperti yang dialami Gibran dan Kaesang, karena tidak semua orang-orang muda itu anak Presiden.
Drama yang terjadi di Tahun Politik jelang akhir masa jabatan Presiden Jokowi, yang didominasi oleh skandal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dengan aktor utama mantan Ketua MK Anwar Usman, pamannya Gibran, memberikan pelajaran yang buruk kepada generasi muda/generasi millenial/generasi Z, tentang politik yang menghalalkan segala cara dengan melanggar hukum, mengabaikan moral dan etika demi mempertahankan atau merebut kekuasaan.