“Mengapa disebut begitu?” tanyaku sambil memandang gedung itu.
“Karena desain gedungnya itu. Lingkaran bundar tak terputus. Itu adalah simbol makna integritas. Keutuhan. Tidap terputus-putus dan terpecah-pecah. Seperti makna itulah pelaksanaan tugas dan tanggung jawab para pejuang penegakan hukum yang berada di bawah naungan Gedung Bundar itu. Dalam kesatuan yang utuh. Kata dengan tindakan. Komit dengan sumpah/janji yang mereka ucapkan saat mereka dilantik jadi pejuang.”
Lalu engkau ceritakan bagaimana pentingnya peran para pejuang dari Gedung Bundar itu. Mereka memberantas kejahatan-kejahatan yang terjadi di tengah masyarakat. Mereka membantu menyembuhkan luka-luka akibat berbagai tindakan kejahatan. Menangkap dan menyeret para pelaku kejahatan ke pengadilan untuk diadili. Pendek kata, mereka melakukan tugas suci – sacred duty – dalam penegakan hukum dan keadilan di negeri ini. Aku dengar ceritamu itu dengan penuh kekaguman. Rasanya seperti dalam dongeng saja.
Dalam tahun-tahun yang berlalu dan dari berbagai peristiwa yang terjadi, aku merasakan dan menyakini bahwa ceritamu yang dulu itu ternyata hanyalah sebuah dongeng. Karena realitasnya tidak seperti yang engkau kisahkan itu. Kalaupun bukan sebuah dongeng, kisahmu itu aku anggap sebagai suatu harapan dan impian.